Laman

Selasa, 05 Agustus 2014

Harapannya✿(◕‿◕✿)

"sebenarnya aku sudah lelah aku ingin pergi tapi apalah daya, aku tidak punya daya apa-apa kecuali diam tanpa bisa berbuat apa-apa. di rumah ini aku ibarat boneka yang dengan semaunya berbuat tanpa perasaan, aku merasa selalu di salahkan dan tidak pernah ada artinya apa-apa aku selalu mengalah, hatiku sabar, sakit..... sedangkan orang yang janjinya akan melindungipun tidak pernah mau memenuhi janjinya aku ingin terlepas dari rumah ini............... tidak ada keadilan, kalau bukan karena anak dan keluargaku mungkin aku sudah pergi, karena aku sudah tidak sanggup lagi menanggungnya. Ya Allah hanya engkaulah yang dapat menolongku untuk melepas segala masalah yang sedang aku hadapi ini aku yakin dengan segala kebesaran dan kekuatanmu engkau pasti menolong hamba-hambamu yang sedang dalam kesulitan. Ya allah angkatlah derajat dalam derajat yang....... agar aku bisa terlepas dari segala masalah ini" "hari ini tanggal 18 desember, aku sudah mulai merasa lelah sekali, letih tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku benci dengan segala kepalsuan ini, aku ingin lari, aku tidak menyesal dengan perkawinan ini, tapi aku menyesal bergabung dengan keluarga yang semuanya keras kepala, aku benci benci........." "Anakku yang cantik yang lucu, mamah selalu mendoakan agar engkau kelak menjadi anak yang tinggi derajatnya dan hidup selalu berkecukupan dengan mempunyai pendamping yang bertanggungjawab" "hari ini aku merasa kebahagiaan yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata, kebersamaan yang indah, andai saja kebersamaan ini hanya Kita Berempat dalam atap keluarga. Betapa kebahagiaan ini lebih sempurna lagi" Itulah sepenggal harapan yang dituliskan seorang Perempuan yang memiliki kekayaan hati yang sangat sempurna Allah ciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihan yang Allah berikan, Perempuan itu adalah Ibuku, Perempuan itu adalah surgaku, Perempuan itu adalah senyumku, dia sudah cukup lelah dan dia sudah berhasil melakukan semua tugasnya dengan baik sebagai Ibu rumah tangga, melayani suami, menahan diri dari amarah dan emosi, melayani mertua seikhlas hati, mendapat ketidakadilan dari keluarga yang mengakunya keluarga, diperlakukan dengan menyakiti hatinya, dia sudah lulus ya Allah perempuan itu sudah bahagia dengan keadaan yang berbeda sekarang, engkau telah mengambilnya kembali dan mewujudkan semua harapannya untuk bisa bahagia dan lepas dari segala masalahnya dengan menempatkan dia di sisimu bersama surga yang penuh dengan kebahagiaan. Kau lebih tau apa yang terbaik untuk umat-Mu, Kau lebih mengerti apa yang seharusnya terjadi, Kau tidak lagi memberikan kebahagiaan di dunia untuk Ibuku, melainkan Kau berikan kebahagiaan di akherat sebagai jalan yang abadi menuju keindahan kasih sayang dan surgamu.. Kini aku mengerti ya Allah Kaulah dzat maha segalanya, dzat pemberi tolong bagi kelakuan manusia yang hanya mementingkan diri sendiri. Kau selamatkan Ibuku dari keluarga yang selalu menyakiti hatinya, Kau selamatkan Ibuku lewat tanganmu, Kau angkat nyawanya Kau beri kebahagiaan sejati di alam sana. Kau sungguh maha kuasa di atas kemampuan yang tidak bisa di jangkau. Kau penolong Ibuku ya Allah. Lewat catatan hariannya sekarang aku mengerti Kau lah yang mempunyai kasih sayang yang nyata dan sejati di bandingkan dengan manusia yang mengakunya mampu melindungi. Akupun tidak membenci siapapun, melainkan aku hanya masih merasakan sakit hati yang teramat dalam atas perlakuan mereka terhadap Ibuku. Biarlah mereka selalu menjelek-jelekan aku sepengetahuan yang mereka lihat. Tapi Allah tidak buta, terimakasih untuk Bapaku yang sampai sekarang masih membiayai Kuliahku walaupun kasih sayang itu tidak sesempurna mamah.. Inilah putri kecilmu yang berusia 5 bulan sekarang aku sudah besar, aku sudah dewasa mamah... aku sedang meraih impianku membahagiakan Lena, mamah opah, dan Bapa..... Terimakasih mamah mencatatkan segala kegelisahan mamah sehingga aku mengerti Allah maha adil atas segala kuasanya.. :)

Senin, 21 Juli 2014

????

apa salah jika seorang anak usia 9 tahun yang sudah tidak memiliki Ibu bermain dengan dunianya? bukankah mereka tidak pantas untuk di salahkan hanya karena mainannya mengganggu dan merusak pemandangan mata orang dewasa? wajar jika mereka mengalihkan semua kesenangannya pada benda-benda (kertas, pulpen, plastik, boneka dll) yang di anggapnya menolong untuk menghilangkan rasa jenuh tanpa kasih sayang dari kalian yang mengakunya menjaga di rumah? mereka tidak salah bahkan tidak pantas untuk di salahkan, kalian yang mengakunya dewasa hanya bisa menyalahkan, membandingkan dan menganggap mereka sebagai anak yang nakal dan tidak tau kebersihan. sepantasnya wajar mereka bermain sesuai dengan apa yang di lihatnya, mereka meniru, sembari menghilangkan jenuh yang kalian sendiri tidak bisa memberikan kasih sayang sesempurna Ibu kandungnya. cara kalian sebagai orang yang mengakunya dewasa selalu penuh dengan emosi, keegoisan, kemarahan, dan tidak bisa mengontrol diri hanya karena hal yang masih terlalu wajar untuk di perdebatkan, seolah-olah hidup kalian terganggu dengan adanya keberadaan anak tersebut di usianya. itu semakin menguatkan saya bahwa kalian yang mengakunya dewasa hanya ada kemunafikan dan kebohongan kasih sayang. amarah dan emosi yang anda ciptakan tidak akan pernah anda temui kedamaian yang sesungguhnya. anak tercipta dengan dunianya, dunia kebahagiannya, dunia yang anda anggap hanya sebuah benda mati tak berguna, dunia yang anda anggap sampah, dia berhak bermain, dia berhak menciptakan suasana yang damai untuk dirinya, dia berhak menciptakan keinginan apapun yang menjadi penyemangatnya. Jangan mengaku dewasa, jika melukai adalah hal yang paling mudah anda lakukan.

Sabtu, 19 Juli 2014

YANG MENGAKUNYA

Siapa sangka menginginkan untuk menjadi yang paling bahagia adalah impian terindah yang manusia miliki, dia mengharapkan kebahagiaan yang nyata dan tulus dari orang-orang yang seharusnya memberikan keindahan itu dalam hidupnya. mungkin tak banyak mereka yang merasa kesal dan bimbang ketika harus berkumpul dengan orang-orang yang sebagian menganggap itu adalah kenyamanan, namun tidak untuk saya. saya bukan orang yang ahli berperan dengan suasana yang berubah sehingga saya harus memerankan sebagai manusia yang tiba-tiba berkoar kesana kemari mencari perhatian yang sebenarnya tidak saya dapatkan di sini, saya bukan anak kecil yang tidak perlu memikirkan masalah apapun yang ada di kehidupan saya dan bermain melupakan segalanya. Tidak ada manusia yang mampu bertahan jika tidak ada kehangatan dan kenyamanan dari oarang di sekelilingnya. saya akan merasa bahagia jika saya hidup dengan kenyamanan yang tulus, bukan mereka yang sejatinya berkata paling benar karena sudah merasakan asam, manis, pahitnya kehidupan. ukuran manusia dalam menentukan masalah seberat apapun tidak akan sama jawabnya, bukankah peran orang tua tidak hanya memberikan dukungan secara materi saja? bukankah seharusnya orang tua merasa lebih peka terhadap apa yang di rasakan buah hatinya? bukankah nasehat yang penuh dengan kasih sayang jauh lebih hangat ketika hanya meluapkan emosi keegoisan sebagai orang yang di sebut paling berpengalaman itu jauh lebih baik? tangisan kami bukan tangisan anak nakal yang harus di balas dengan emosi saat kami merasa ada di titik paling akhir kesalahannya. mengapa untuk mendapatkan kenyaman dan kebahagiaan batin saja serasa meminta hal yang paling sulit dan mustahil untuk di dapat? apa hidup mereka yang mengaku sebagai orang tua tidak memahami apa arti kasih sayang yang tulus? pernah saya mengungkapkan isi hati saya ini, namun apa jawabnya? "anak durhaka" lah yang di sematkan untuk saya. Bukankah pendapat anak juga berperan penting untuk menentukan nasibnya di esok hari? Bukankah anak juga manusia yang sewaktu-waktu merasa ingin di dengar keluhannya tidak untuk di cela dan di anggap salah? mereka yang mengakunya sudah dewasa dan mereka yang mengakunya orang tua tidak akan pernah mengerti apa itu ketulusan menyayangi. Tidak membantu itu adalah anak malas, tidak keluar dari kamar seharian itu adalah malas, tidak tanggap itu adalah anak malas. Itu yang kalian tau yang mengakunya sudah dewasa dan yang mengakunya sebagai orang tua. mereka lupa untuk tidak menanyakan "kenapa" mereka lupa untuk mencurahkan "perhatian" mereka lupa itu semua.

TANPA MEREKA

Akhirnya setelah sekian lama aku menjalani kehidupan ku baru kali ini aku bisa menyempatkan waktu untuk menulis, menulis tidak hanya sekedar hobby melainkan sebuah karya yang tidak bisa semua orang lakukan. aku tak seindah kalian, bahkan aku tak sesempurna kalian. ntah apa yang ada di dalam benakku hingga aku harus menulis postingan ynag berjudul "TANPA MEREKA" sulit rasanya untuk memulai setiap kisah yang telah Allah gariskan dalam kehidupan kita. Banyak kisah yang ku alami, tidak semua keluarga memiliki sifat yang sama terhadap anggota keluarga lainnya, banyak dari mereka yang tidak tau apa arti kasih sayang nyata terhadap yang lainnya. mereka hanya mementingkan apa yang menjadi prioritas mereka. inikah yang dinamakan bahwa keluarga adalah tempat utama untuk berteduh ketika tubuh ini lelah dengan segala aktifitas yang ada? hanya berharap ada sedikit kehangatan yang tercipta sekedar melepas tawa dan berbagi pengalaman, tanpa harus berteriak, menyalahkan, bahkan merasa paling benar dalam satu rumah. asal kalian tau saya bukan orang yang paling bahagia ketika yang lain bahagia bisa bertemu dengan keluarganya di rumah. mereka yang meneriakan paling benar justru mereka yang tidak pernah merasakan apa itu kebersamaan. Yang tua harus selalu minta di layani, dan yang muda harus selslu menuruti kehendak apapun yang diperintahkan. mereka gagal menciptakan kehangatan! Aku benci seisi rumah ini, aku benci orang yang mengakunya keluarga tapi munafik menuntut untuk minta di bantu tapi berkoar-koar merasa hak dia di atas segalanya. saya bukan tidak menghormati atau membenci segala yang Allah ciptakan dengan sikap dan sifat yang berbeda. Tapi masih ingat siapa yang membantu meringankan beban masalah kalian dulu, membantu merawat anak kalian, membantu menyiapkan hidangan makanan terlezat untuk kalian, membantu mengurus surga di telapak kakinya sementara kalian sendiri tidak pernah melakukan hal itu. Lupa? hahaha :D MUNAFIK!!!